Showing posts with label Laporan Kimia Organik I. Show all posts
Showing posts with label Laporan Kimia Organik I. Show all posts

Etil Asetat (Esterifikasi)

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Ester adalah sebuah asam karboksilat mengandung gugus -COOH dan pada sebuah ester hidrogen pada gugus ini digantikan dengan sebuah gugus hidrokarbon dari berbagai jenis. Gugus ini bisa berupa gugus alkil seperti metil atau etil, atau gugus yang mengandung sebuah cincin benzen seperti fenil. Sifat-sifat dari ester yaitu pada umumnya mempunyai bau yang harum, menyerupai bau buah-buahan. Senyawa ester pada umumnya sedikit larut dalam air, ester lebih mudah menguap dibandingkan dengan asam atau alkohol. Pembentuknya ester merupakan senyawa karbon yang netral. Ester dapat mengalami reaksi hidrolisis. Berbagai metode ester dibuat dengan mereaksikan alkohol atau fenol dengan asam karboksilat kemudian direfluks. Reaksi pembuatan ester disebut esterifikasi dan reaksi yang terjadi disebut reaksi esterifikasi Fischer. Reaksi esterifikasi merupakan reaksi reversibel yang sangat lambat, tetapi bila menggunakan katalis asam mineral seperti asam sulfat (H2SO4) dan asam klorida (HCl) kesetimbangan akan tercapai dalam waktu yang cepat.
Reaksi esterifikasi adalah suatu reaksi antara asam karboksilat dan alkohol membentuk ester. Esterifikasi dapat dikatalis oleh kehadiran ion H+. Asam belerang sering digunakan sebagai suatu katalisator untuk reaksi ini. Nama ester berasal dari essig-ather Jerman, sebuah nama kuno untuk menyebut etil asam cuka ester (asam cuka etil). Faktor-faktor yang berpengaruh pada reaksi esterifikasi adalah waktu reaksi, pengadukan, katalisator,dan suhu reaksi. Proses esterifikasi dalam industri dapat dilakukan secara kontinyu maupun batch. Pemilihan kedua macam proses tersebut tergantung pada kapasitas produksinya. Untuk kapasitas produksi yang relatif kecil sebaiknya jenis yang digunakan adalah proses batch. Sedangkan proses esterifikasi kontinyu dipilih untuk kapasitas produksi yang relatif besar.
Aplikasi ester dalam kehidupan yaitu biodiesel . Biodisel merupakan suatu nama dari alkil ester atau rantai panjang asam lemak yang berasal dari minyak nabati maupun lemak hewan. Biodiesel dapat digunakan sebagai bahan bakar pada mesin yang menggunakan diesel sebagai bahan bakarnya tanpa memerlukan modifikasi mesin. Ester mempunyai beberapa manfaat yaitu Ester digunakan untuk essen (sebagai pengharum), karena ester mempunyai bau harum (khas yang terdapat pada buah dan bunga). Ester digunakan untuk bahan pembuatan sabun. Ester tersebut mengalami reaksi saponifikasi, yaitu reaksi lemak atau minyak dengan Basa membentuk garam (sabun) dan gliserol. Ester digunakan untuk pembuatan margarine yang dilakukan dengan reaksi hidrogenasi (adisi gas hidrogen) terhadap minyak nabati.

1.2   Tujuan Percobaan
     Percobaan ini bertujuan untuk mensintesis etil asetat melalui reaksi esterifikasi dan sekaligus menentukan sifat-sifat senyawa tersebut.

BAB II
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Ester adalah senyawa-senyawa hasil reaksi asam karboksilat dengan alkohol. Reaksi pembentukan ester disebut esterifikasi (pengesteran). Zat-zat pengharum (essen) yang terkandung dalam tumbuh-tumbuhan tidak lain adalah ester. Pada buah-buahan keharumannya tergantung dari ester yang terkandung di dalamnya. Gugus fungsional asam karboksilat adalah gugus karboksil, yang hidrogennya bersifat asam lemah (Halim, 1990).
Etil asetat adalah cairan jernih, tak berwarna, berbau khas, terutama digunakan sebagai pelarut tinta, perekat, resin. Etil asetat adalah senyawa organik dengan rumus empiris C2H5OC(O)CH3. Senyawa ini merupakan ester dari etanol dan asam asetat. Senyawa ini berwujud cairan tak berwarna, memiliki aroma khas. Senyawa ini di produksi dalam skala besar sebagai pelarut. Etil asetat adalah pelarut polar menengah yang volatil (mudah menguap), tidak beracun, dan tidak higroskopis. Seperti kebanyakan reaksi aldehida dan keton, esterifikasi suatu asam karboksilat berlangsung melalui serangkaian tahap protonasi dan detonasi. Oksigen karbonil diprotonasi, alkohol nukleofilik menyerang karbon positif dan eliminasi air akan menghasilkan ester. Etil asetat disintesis melalui reaksi esterifikasi Fischer dari asam asetat dan ethanol, biasanya disertai katalis asam seperti asam sulfat (Pudjaatmaka, 1986).
Reaksi esterifikasi adalah reaksi pembentukan ester dengan cara merefluks sebuah asam karboksilat bersama sebuah alkohol dengan katalis asam. Asam yang digunakan sebagai katalis biasanya adalah asam sulfat. Pembentukan ester melalui asilasi langsung asam karboksilat terhadap alkohol, seperti pada esterifikasi Fischer lebih disukai ketimbang asilasi dengan anhidrida asam ( atom yang rendah) atau asil klorida (sensitif terhadap kelembapan). Kelemahan utama asilasi langsung adalah konstanta kesetimbangan kimia yang rendah. Hal ini harus diatasi dengan menambahkan banyak asam karboksilat, dan pemisahan air yang menjadi hasil reaksi. Pemisahan air dilakukan melalui distilasi Dean-Strak atau penggunaan saringan molekul (Pudjaatmaka, 1992).
Suatu reaksi pemadatan untuk membentuk suatu ester disebut esterifikasi. Esterifikasi dapat dikatalis oleh kehadiran ion H­+. Asam belerang sering digunakan sebagai sebagai suatu katalisator untuk reaksi ini. Nama ester berasal dari Essig-Äther Jerman, sebuah nama kuno untuk menyebut etil asam cuka ester (asam cuka etil). Ester dapat dibuat oleh suatu reaksi keseimbangan antara suatu alkohol dan suatu asam karbon. Ester dinamai menurut kelompok alkil dari alkohol dan kemudian alkanoat (bagian dari asam karbon). Sebagai contoh, reaksi antara metanol dan asam butir menghasilkan ester metil butir C3H7-COO-CH3 seperti halnya air. Yang paling sederhana adalah H-COO-CH3, metil metanoat. Karena ester dari asam yang lebih tinggi, alkana menyebut dengan -oat pada akhiran. Secara umum Ester dari asam berbau harum meliputi benzoat seperti metil benzoat. Reaksi esterifikasi merupakan reaksi pembentukan ester dengan reaksi langsung antara suatu asam karboksilat dengan suatu alkohol (Pudjaatmaka, 1992).
Senyawa-senyawa alkohol bereaksi dengan asam-asam karboksilat membentuk ester-ester organik sebagai analog deri ester-ester yang terbentuk dari senyawa-senyawa alkohol dengan asam oksigen dan organik. Dalam pembuatan suatu ester dimana asam salisilat dipanaskan dalam metil alkohol bersama sejumlah kecil asam kuat sebagai katalisator untuk membentuk metil salisilat gugus hidroksil dalam air yang terjadi berasal dari asam karboksilat. Reaksi ini bersifat bolak-balik atau reversible, jika dipakai alkohol dalam jumlah berlebihan, maka kesetimbangan beranjak ke arah pembentukan ester; sebaliknya, jika ester dipanaskan dengan air yang berlebihan beserta suatu katalisator asam, maka ester akan dihidrolisis menjadi asam dan alkohol. Senyawa dianggap berasal dari asam karboksilat menggunakan hidrogen dari gugus hidroksil dengan gugus hidrokarbon yang disebut ester. Hidroksil ester asam karboksilat dan alkohol, seperti etil asetat hidrolisis menghasilkan asam asetat dan etanol. Ester sering digunakan biasanya sebagai pelarut cat atau cat kuku atau lem (Ganiswarna, 1995).
Anhidrida dan ester keduanya merupakan turunan asam, maka namanya didasarkan pada nama asamnya. Jika menganalisis struktur dalam usaha memberi nama, carilah karbon yang mengandung gugus karbonil. Pembuatan dan reaksi anhidrida sama saja. Anhidrida terbentuk karena lepasnya molekul air dan dua gugus asam karboksilat. Ester terbentuk karena lepasnya molekul air bila alkohol bereaksi dengan asam karboksilat atau karena reaksi alkohol dengan anhidrida (Roehayati, 1988).
Penamaan ester hampir menyerupai dengan penamaan basa, walaupun tidak benar-benar mempunyai kation dan anion, namun memiliki kemiripan dalam sifat lebih elektropositif dan keelektronegatifan. Suatu ester dapat dibuat sebagai produk dari suatu reaksi pemadatan pada suatu asam (pada umumnya suatu asam organik) dan suatu alkohol (atau campuran zat asam karbol), walaupun ada cara-cara lain untuk membentuk ester. Pemadatan adalah suatu jenis reaksi kimia di mana dua molekul bekerja sama dan menghapuskan suatu molekul yang kecil, dalam hal ini dua gugus OH yang merupakan hasil eliminasi suatu molekul air (Pudjaatmaka1986).

BAB III
                                         METODOLOGI PERCOBAAN
3.1 Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah labu destilasi, penangas es, kaca asbes, pembakar spiritus/pembakar gas, corong pisah,corong kecil, penangas air, erlenmeyer, gelas ukur, dan gelas kimia.
Bahan-bahan yang digunakan adalah etanol, asam sulfat pekat, asam asetat, batu didih, Na2CO3 dan CaCl2 (I).
3.2 Cara Kerja
Etanol sebanyak 15 mL dicampurkan dengan 15 mL asam asetat glasial dan ditambahkan 4 mL asam sulfat pekat didalam labu destilasi 500 mL. Campuran tersebut direfluks selama 15 menit. Campuran didestilasi perlahan-lahan sampai 1000C, sambil diperhatikan setiap 10 tetes destilat sampai membuat dua lapisan dengan 1 mL air. Bila ester yang terdestilat tidak ada lagi, Na2CO3 ditambahkan pada destilat dan dites dengan kertas lakmus. Campuran dikocok sampai larutan bereaksi netral. Larutan dituangkan melalui corong kedalam corong pisah. Bagian bawah larutan dipisahkan dan ditambahkan 7,5 mL air es kedalam corong pisah, dikocok dan dipisahkan lagi bagian bawahnya. Sisanya diulangi lagi dengan CaCl2. Sisa larutan (lapisan atas) dituangkan melalui bagian atas corong. Diukur volume ester yang dihasilkan.

BAB IV
DATA HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Data Hasil Pengamatan
Tabel 4.1 Data hasil pengamatan
Percobaan
Pengamatan

Etanol +  CH3COOH + H2SO4
 ↓

Direfluks
 

Destilasi
                    +Na2CO3

Uji lakmus merah
 

Uji lakmus biru
 

Ester + air es
 

Diekstraksi
 

Volume ester yang
Diperoleh

Larutan bening, terasa panas


Larutan bening, aroma harum belum khas

Destilat, bening
Titik Didih 72oC

Lakmus tidak berubah


Lakmus berubah menjadi merah


   Terbentuk 2 lapisan, air di bawah dan ester diatas

Bening, ester beraroma khas balon


9 mL


4.2 Pembahasan
Ester adalah suatu senyawa yang mengandung gugus RCOOR. R dapat berupa alkil maupun aril. Ester dapat dibuat dengan beberapa cara diantaranya interestifikasi, alkoholisis dan asidolisis. Pada percobaan ini ester dibuat dari reaksi antara asam karboksilat dan alkohol. Reaksi esterifikasi tidak berkesudahan sebab terjadi reaksi bolak-balik. Reaksi esterifikasi juga disebut reaksi reversible.
Senyawa yang dipakai sebagai asam karboksilat adalah asam asetat. Sedangkan sebagai alkohol digunakan etanol. Katalis asam yang digunakan adalah asam sulfat. Prinsip percobaan ini didasarkan pada reaksi esterifikasi dengan merefluks asam asetat glasial dengan etanol menggunakan katalis H2SO4 yang dilanjutkan dengan destilasi dan ekstraksi. Refluks berfungsi untuk menghomogenkan larutan dengan cara pemanasan secara  berulang-ulang yang dilakukan selama 15 menit. Reaksi esterifikasi berlangsung dalam waktu yang relatif lama. Oleh karena itu, reaksi ini membutuhkan katalis dan proses pemanasan untuk mempercepat reaksi.
Sebelum dilakukan proses refluks, ditambahkan batu didih kedalam labu destilat. Batu didih berfungsi untuk meratakan panas. Panas yang merata menyebabkan semua bagian larutan dapat mendidih dengan sempurna. Uap yang dihasilkan oleh larutan akan didinginkan oleh air yang alirkan dalam kondensor. Air mengalir dari bawah dan keluar melalui saluran atas agar air terdistribusi secara merata. Hal ini mencegah labu destilat agar tidak mudah pecah.
Destilasi adalah proses pemisahan berdasarkan perbedaan titik didih. Larutan didestilasi sampai suhu 70oC. Pada suhu 70oC, ester akan menguap lalu melewati kondensor dan jatuh dalam wadah penampung. Suhu yang digunakan harus sekitar 70oC, jika mencapai 100oC maka air dalam sampel akan ikut menguap. Air merupakan produk samping dari reaksi esterifikasi. Ester yang terdapat didalam wadah penampung disebut dengan destilat.
Langkah selanjutnya adalah ester diekstraksi. Ekstraksi adalah proses pemisahan berdasarkan perbedaan kelarutan dalam pelarut tertentu. Destilat ditambahkan Na2CO3. Larutan diuji dengan kertas lakmus, kertas lakmus tidak mengalami perubahan warna. Artinya larutan tersebut memiliki pH netral. Hal ini diakibatkan oleh penambahan larutan Na2CO3. Larutan Na2CO3 juga berfungsi untuk menghilangkan pengotor pada larutan. Untuk proses pemisahan, larutan dimasukkan dalam corong pisah. Larutan dikocok sampai gas terpisah dan dikeluarkan melalui keran, lalu buang larutan Na2CO3.
Larutan Na2CO3 berada di bawah karena larutan Na2CO3 memiliki massa jenis yang lebih besar dari ester. Terlebih lagi Na2CO3 telah mengikat air, Na2CO3 dapat mengikat air karena sama-sama polar. Lalu dimasukkan air es kedalam corong pisah. Air es berfungsi untuk mendinginkan larutan. Kemudian air dibuang melalui keran. Lalu sisanya ditambahkan dengan CaCl2 anhidrat yang berfungsi untuk menghilangkan gas-gas sisa. Kemudian diekstraksi lagi dan menghasilkan ester sebanyak 9 mL dan ditandai dengan bau yang khas seperti balon.

BAB V
KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa:
1.    Sintesis etil asetat menggunakan asam asetat glasial dan etanol telah berhasil dilakukan menggunakan metode esterifikasi.
2.    Etil asetat yang diperoleh berbau khas seperti balon.
3.    Volume etil asetatyang diperoleh pada percobaan ini sebanyak 9 mL.
4.    Titik didih ester yang diperoleh 72oC.

DAFTAR PUSTAKA
Ganiswarna. 1995. Farmakologi dan Terapi Edisi IV. Universitas Indonesia, Jakarta.

Halim. 1990. Analisis Kimia Kuantitatif Edisi 1. Erlangga, Jakarta.

Pudjaatmaka, A.H. 1986. Kimia Organik. Terjemahan dari Organic Chemistry oleh Fessenden. Erlangga, Jakarta.

Pudjaatmaka, A.H. 1992. Kimia Untuk Universitas. Terjemahan dari General College Chemistry oleh Keenan. Erlangga, Jakarta.

Roehayati. 1988. Kimia Organik. Terjemahan dari Organic Chemistry oleh Stanley. ITB, Bandung.

Amina dan Amida

BAB I
PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
Di alam banyak sekali kita jumpai senyawa, baik itu senyawa organik maupun senyawa anorganik, ataupun senyawa kompleks dan senyawa sederhana. Kali ini akan dibahas mengenai salah satu senyawa organik sederhana, atau lebih spesifik lagi membahas tentang amina dan amida.
Amina merupakan keluarga ammonia yang terdapat di alam dan memainkan peranan penting dalam banyak teknologi modern. Salah satu manfaat dari amina yaitu dapat digunakan sebagai pereda nyeri yang kita kenal dengan nama morfina, yang dijumpai pada biji opium dan putresina yaitu salah satu dari beberapa poliaminan yang menyebabkan bau tidak enak dari daging busuk. Diamina yang paling banyak dibuat oleh manusia yaitu 1,6-diaminoheksana, digunakan dalam sintesis nilon.
Turunan amina yang dikenal sebagai garam kuartener juga menyentuh kehidupan kita sehari-hari dalam bentuk detergen sintetik. Beberapa neorotoksin juga termasuk dalam keluarga ini. Senyawa tersebut meracun karena mengganggu peranan asetil kolina, juga garam ammonium kuartener yang beperan dalam transmisi impuls syaraf.
Amida dapat diturunkan dari asam, dimana gugus –OH diganti dengan NH2 atau amoniak, dimana 1 H diganti dengan asli. Amida adalah turunan dari asam karboksilat yang bersifat netral. Pembentukan senyawa amida dapat dilakukan dengan mereaksikan suatu amina karboksilat dengan suatu asil halida atau anhidrida asam pada kondisi yang cocok. Untuk mengetahui lebih dalam senyawa amina dan amida maka dilakukan percobaan ini.

1.2    Tujuan Percobaan

Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui sifat-sifat dari berbagai senyawaan amina dan amida.

BAB II
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Amina adalah suatu senyawa yang mengandung gugusan amino. Gugusan amino mengandung nitrongen terikat kepada satu sampai tiga atom karbon (tetapi bukan gugusan karbonil) dan sejumlah atom hidrogen (tidak ada, satu atau dua). Apabila salah satu karbon yang terikat pada atom nitrogen adalah karbon karbonil, senyawanya adalah amida, bukan amina. Amina digolongkan menjadi amina primer (RNH2), sekunder (R2NH), atau tersier (R3N), tergantung kepada jumlah atom karbon yang terikat pada atom nitrogen (bukan pada atom karbon, seperti pada alkohol) (Achmadi, 2005).
Beberapa (1o) Amin Primer (satu karbon terikat kepada N), beberapa (2o) Amin Sekunder (dua karbon terikat kepada N) dan beberapa (3o) Amin Tersier (tiga karbon terikat kepada N). Contohnya adalah sebagai berikut:

Sedangkan hubungan antara amonia dan amina digambarkan oleh struktur berikut :

Amina alifatik sederhana biasanya diberi nama dengan menulis substituenalkyl atau aril dan menambahkan akhiran –amina. Bagian dari nama amina digabung dalam satu kata.

Amina heterosikalik, dengan nitrogen didalam cincin, mempunyai nama sendiri, contohnya piridin (Roehayati,1988).
Amida adalah senyawa yang ditutunkan dari asam karboksilat dengan mengganti gugus OH menjadi gugus NH2. Amida sangat polar dan mudah membentuk ikatan hidrogen. Titik didihnya tinggi dibandingakan senyawa lain dengan bobot molekul yang sama namun substitusi aktif pada nitrogen cenderung menurunkan titik didih dan titik lelehnya karena menurunnya kemampuan membentuk ikatan hidrogen. Artinya amida yang mengandung gugusan N-H mempunyai titik leleh dan titik didih yang lebih tinggi daripada amida yang mengandung NR. Amida dengan kelompok NH2 bisa didehidrasi dengan sebuah nitril. Dengan demikian rumus umum untuk amida adalah: R-CO-NH2. Kelarutan dari amida dan ester secara kasar sebanding. Biasanya amida kurang larut dibandingkan amina dan asam karboksilat yang sebanding karena senyawa ini dapat dengan baik menyumbangkan dan menerima ikatan hidrogen (Rahayu, 2005).
Amida bereaksi dengan nukleofil, misalnya ia dapat dihidrolisis dengan air. Amida lebih polar karena ikatan O-H lebih kuat dari N-H oleh karena keelektronegatifnya. Ketiga jenis amina bereaksi dengan air, dan seperti amonia, membentuk ion ammonium (atau ion ammonium tersubstitusi) dan ion hidroksida. Persamaan reaksi antara amonia dan amina primer dengan air, adalah sebagai berikut :

Larutannya adalah basa lemah karena kesetimbangan bergeser jauh ke kiri. Kebasaan amina alifatik sebanding dibandingkan amonia. Karena amina bersifat basa, maka apabila senyawa ini bereaksi dengan asam menghasilkan garam. Amina yang biasanya tidak larut air, umumnya larut dalam asam karena pembentukan garam yang bersifat larut air.

Hidrolisis asam pada amida sekunder menghasilkan asam karboksilat dan garam ammonium tersubstitusi apabila larutanya basa. Asam karboksilat dan garam ammonium terbentuk apabila amida primer dipanaskan dalam larutan asam (X adalah anion dari asam kuat) (Pudjaatmaka, 1992).

Hidrolisis basa pada amida primer menghasilkan garam karboksilat dan amonia.

Amonia dapat dideteksi dari baunya selama hidrolisis basa berlangsung. Hidrolisis basa pada amida sekunder menghasilkan garam karboksilat dan amina. Urea, seperti halnya amida lain, dapat dihidrolisis dalam larutan asam atau basa. Satu-satunya segi tak lazim pada hidrolisis asam adalah pembentukan asam karbonat, H2CO3 yang segera terombak menjadi CO2 dan H2O. garam natrium dari asam karbonat, yaitu natrium karbonat, terbentuk dalam hidrolisis basa (Achmadi, 1993).

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1  Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini yaitu tabung reaksi, erlenmeyer, penyaring, corong, alat titik lebur, pembakar gas, tutup tabung, batang pengaduk dan penangas es.
Bahan-bahan yang digunakan yaitu anilin, metil anpek NaOH encer, NaOH 10%, benzensulfonilklorida, HCl pekat, metil iodida,  asetamida, NaOH 8 N, kertas lakmus, asam sulfat encer, ureum, lart. Ca(OH)2, HgO, Na.nitrit.
3.2  Cara Kerja
3.2.1 Amina
       a.     Sifat-Sifat Umum
tiga tabung reaksi masing-masing diisi dengan 5 ml HCl encer dan 5 ml NaOH encer. Pada tabung 1 tambahkan 2 tetes anilin. Tabung II tambahkan 2 tetes metil anilin dan tabung III tambahkan 2 tetes dimetil anilin.

       b.     Uji Heisenberg
sepuluh ml larutan NaOH 10% tambahkan 14 tetes benzensulfonilklorida dan 8 tetes anilin, dikocok dan diamati, panaskan pelan-pelan jangan sampai mendidih sampai bau benzensulfonilklorida hilang. Dinginkan sampai mencapai suhu kamar, catat dan amati. Bila terjadi endapan, saring dan endapan dicuci dengan sedikit air. Kristalkan dengan menambahkan 5 ml etanol 70%, tentukan titik leburnya. Cara kerja diulang dengan menggantikan anilin dengan metil anilin dan dimetil anilin.

       c.     Dalam tabung reaksi kering masukkan 1 ml anilin dan tambahkan 2 ml etil iodida, tutup tabung, lalu biarkan sambil sesekali dikocok selama 20 menit atau sampai timbul kristal. Ulangi cara  kerja dengan metil anilin dan dimetil anilin.

3.2.2 Amida
                 a.     Hidrolisa
          0,2 gram asetamida ditambah 2 ml lart. NaOH 8 N, panaskan, uji gas yang keluar                   dengan kertas lakmus merah yang telah dibasahi air. Ulangi percobaan dengan ureum, amati dan         catat. Kemudian 0,5 gram astamida dipanaskan dengan 5 ml asam sulfat encer, uji gas yang                  keluar dengan kertas lakmus biru yang basah. Catat bau gas yang keluar.
        b.    Reaksi Terhadap HNO2
            0,3 gram asetamida ditambah dengan 0,3 gram Na. Nitrit dalam 5 ml air. Dinginkan             dalam penangas es. Lalu tambahkan larutan asam sulfat encer, bakar gas yang keluar, amati dan          catat. Ulangi cara kerja dengan ureum dan gas yang keluar diuji dengan lart. Ca(OH)2 yang                 dibasahkan pada batang pengaduk di mulut tabung, amati dan catat hasilnya.

BAB IV
DATA HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
4.1  Data Hasil Pengamatan
Tabel 4.1 Data hasil pengamatan
No.
Skema Kerja
Hasil Pengamatan
1.
Amina
a.     NaOH + Anilin
     HCl + Anilin
b.     NaOH + C6H6 + Anilin
     NaOH + C6H6 + Anilin
  
     NaOH + C6H6 + Anilin

Anilin tidak larut.
Anilin larut dalam HCl.
Bau amis dan berbau ammoniak.
Baunya hilang.

Terbentuk kristal tapi dalam jumlah yang sedikit.
2.
Amida
a.     Asetamida + NaOH

     Asetamida + H2SO4
                                            
b.     Asetamida + NaNO2 + H2O
     Asetamida + NaNO2 + H2O


Lakmus merah berubah menjadi berwarna biru.
Lakmus biru berubah menjadi berwarna merah.
Terdapat sedikit gelembung.
Banyak gelembung dan dinding tabung menjadi kuning.

4.2  Pembahasan
Amina adalah suatu senyawa organik turunan dari ammoniak dengan satu atau lebih gugus organik (R) yang mensubstitusi atom H. penggolongannya didasarkan pada jumlah atom H yang terikat pada atom hidrogen. Pergantian satu atom hidrogen pada atom nitrogen menghasilkan amina primer, RNH2. Amina sekunder mempunyai rumus berjenis R2NH dan amina tersier memiliki rumus R3N. Sifat-sifat umum amina adalah larut dalam air, terutama yang berwujud cair atau gas, berbau menyengat seperti ammoniak, dua suku pertama berwujud gas pada suhu ruang, suku-suku tengah berwujud cair pada suhu ruang, dan suku-suku tinggi berwujud padatan pada suhu ruang. Amida adalah suatu senyawa organik yang mempunyai nitrogen trivalen yang terikat pada suatu gugus karbonil dan merupakan turunan dari asam karboksilat yang sangat tidak reaktif, dimana gugus –OH diganti dengan –NH2 atau ammoniak. Golongan senyawa amida terbentuk lewat reaksi dari asam organik amina.
Dilakukan 4 pengujian pada percobaan yang berjudul amina dan amida ini, yaitu terhadap sifat-sifat umum amina, uji Heisenberg, hidrolisa, dan reaksi terhadap HNO2. Pada pengujian pertama, yaitu terhadap sifat-sifat umum amina diperoleh hasil yaitu reaksi antara NaOH dengan anilin menghasilkan anilin yang tidak larut dalam campuran kedua senyawa tersebut, sedangkan pada reaksi HCl dengan anilin menghasilkan anilin yang larut dalam kedua campuran. Hal tersebut disebabkan oleh amina adalah suatu senyawa yang memiliki sifat basa sehingga apabila direaksikan dengan asam maka akan menghasilkan garam dan larut dalam pelarutnya. Sedangkan jika direaksikan dengan basa maka amina tidak akan larut kedalam pelarut basa yang digunakan.
Pada uji Heisenberg, reaksi antara NaOH dengan C6H6 dan anilin menghasilkan gas yang berbau ammoniak dan berbau amis, ketika dipanaskan bau tersebut hilang dan ketika didinginkan kembali terbentuk kristal dalam jumlah yang sedikit dan basah sehingga tidak bisa diuji titik lelehnya. Gas yang berbau amis tersebut dihasilkan oleh anilin karena anilin adalah suatu senyawa yang berbau busuk. Dalam sebuah literatur, anilin mempunyai bau ikan busuk karena anilin merupakan aromatik prototipikal dan hal tersebut juga membuktikan bahwa amina adalah suatu senyawa yang berbau menyengat, sedangkan untuk kristal yang terbentuk diletakkan dikertas saring, kristal dibasahkan dengan aquadest dan dicuci dengan etanol, fungsinya adalah untuk menghilangkan pengotor yang terdapat pada kristal, hal tersebut dibuktikan dengan berubahnya warna kristal yang semula berwarna coklat menjadi warna putih.
Selajutnya uji hidrolisa (pengujian terhadap amida). Reaksi antara NaOH dan asetamida ketika dipanaskan uap (gas) yang dihasilkan merubah lakmus merah menjadi warna biru. Hal tersebut menjelaskan bahwa campuran (reaksi) antara asetamida dan NaOH adalah campuran yang menghasilkan larutan bersifat basa. Sedangkan reaksi antara asetamida dan H2SO4 ketika dipanaskan uap (gas) yang dihasilkan merubah lakmus biru menjadi warna merah. Hal ini menjelaskan bahwa campuran antara asetamida dan H2SO4 adalah campuran yang menghasilkan larutan bersifat asam. Hidrolisa asam pada amida menghasilkan asam karboksilat dan garam ammonium tersubstitusi apabila larutannya basa. Sedangkan hidrolisa basa pada amida menghasilkan garam karboksilat dan ammoniak.
Pengujian terakhir yaitu uji terhadap HNO2, diperoleh hasil reaksi antara asetamida dengan NaNO2 dan H2O yang direaksikan dengan katalis H2SO4 pekat ketika didinginkan dipenangas es menghasilkan sedikit gelembung yang tidak terlalu terlihat. Sedangkan ketika dipanaskan menghasilkan gelembung yang lebih banyak dan warna pada dinding tabung menjadi kuning, hal tersebut disebabkan oleh sifat H2SO4 yang asam sehingga ketika dipanaskan menghasilkan korosif (karatan yang berwarna kuning) di sekitar dinding tabung reaksi. Penggunaan penangas es disebabkan oleh H2SO4 pekat memiliki sifat yang sangat sensitif sehingga sangat mudah untuk bereaksi (meledak), H2SO4 pekat juga suatu senyawa yang bersifat panas, hal tersebut juga yang mengakibatkan reaksi ini menghasilkan gelembung-gelembung kecil yang berasal dari gas H2 yang nyaris tidak terlihat karena tertutupi oleh es.

BAB V
KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang berjudul amina dan amida ini, diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1.        Amina adalah suatu senyawa yang bersifat basa sehingga larut dalam senyawa yang bersifat asam dan menghasilkan garam, tetapi tidak larut dalam senyawa yang bersifat basa.
2.        Pada uji Heisenberg, gas berbau yang dihasilkan berasal dari senyawa anilin, hal tersebut membuktikan bahwa amina adalah senyawa yang mempunyai bau menyengat.
3.        Pada pengujian asetamida dengan NaOH menghasilkan larutan yang bersifat basa dan pengujian asetamida dengan H2SO4 menghasilkan larutan yang bersifat asam.
4.        Pada pengujian HNO2, Asetamida + NaNO2 + H2O dengan katalis asam sulfat menghasilkan gelembung yang sangat sedikit ketika didinginkan di penangas es, ketika dipanaskan menghasilkan gelembung yang banyak dan merubah warna dinding tabung menjadi kuning.
Penggunaan penangas es karena H2SO4 merupakan senyawa yang sangat sensitif sehingga mudah sekali bereaksi dan H2SO4 juga suatu senyawa yang bersifat panas.

DAFTAR PUSTAKA
Achmadi, Suminar. 1993. Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern Edisi Keempat Jilid Ketiga. Terjemahan dari Basic Chemistry Principles and Modern Applied Fourth Edition Vol 3 oleh Pettruci. Penerbit Erlangga, Jakarta.

Achmadi, Suminar. 2005. Kimia untuk Pemula Edisi Ketiga. Terjemahan dari Chemistry for Beginners Thirth Edition oleh Golberg. Penerbit Erlangga, Jakarta.

Pudjaatmaka, A.H. 1992. Kimia Untuk Universitas. Terjemahan dari General College Chemistry oleh Keenan. Erlangga, Jakarta.
Rahayu, Dwi. 2005. Kimia Organik. Penerbit Erlangga, Jakarta.

Roehayati. 1988. Kimia Organik. Terjemahan dari Oganik Chemistry oleh Stanley. ITB, Bandung.

Penentuan Entalpi Pembakaran Dengan Menggunakan Bom Kalorimeter

BAB I PENDAHULUAN 1.1         Latar Belakang Secara umum untuk mendeteksi adanya kalor yang dimiliki oleh suatu benda yaitu dengan m...